Tiang ini penyebab puluhan kapal nelayan hancur diduga tak memiliki lampu rambu-rambu di tengah laut
koranmonitor – LANGKAT | Jeritan pilu sekaligus kemarahan mencuat dari para nelayan tradisional di Kelurahan Beras Basah, Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Sedikitnya 10 kapal dilaporkan rusak parah setelah menghantam tiang rig atau sumur pengeboran minyak yang berdiri di tengah perairan dan diduga milik PT Energi Mega Persada.
Insiden tersebut terjadi di wilayah laut yang menjadi area tangkap nelayan setempat. Para nelayan mengaku kesulitan melihat keberadaan tiang besi itu pada malam hari karena minimnya rambu navigasi dan lampu peringatan.
Ketua Persatuan Nelayan Tradisional Indonesia (PNTI) Pangkalan Susu, Dina Herawati SE, menyampaikan kritik keras terhadap pihak perusahaan. Ia menyebut terdapat sekitar 14 titik sumur migas di perairan tersebut yang dinilai belum dilengkapi sistem navigasi memadai.
“Masalahnya ada sekitar 14 sumur, dan sudah ada 10 kapal yang menabrak karena faktor arus air,” ujar Dina, Jumat (27/2/2026).
Menurutnya, ketiadaan rambu yang jelas membuat struktur rig berubah menjadi ancaman serius bagi nelayan, terutama saat melaut di malam hari. Ia menegaskan bahwa kerusakan kapal membuat nelayan kehilangan sumber penghasilan.
“Nelayan jadi korban karena perusahaan tidak memasang rambu navigasi yang layak. Usaha mereka terganggu, alat cari makan rusak, dan sekarang mereka tidak bisa bekerja,” tegasnya.
PNTI juga menyoroti tawaran kompensasi yang disebut hanya sebesar Rp2 juta per kapal. Angka tersebut dinilai jauh dari kerugian yang dialami nelayan, yang diperkirakan mencapai Rp10 juta hingga Rp50 juta per kapal, tergantung tingkat kerusakan.
“Pihak perusahaan mengajak damai, tapi hanya menawarkan kompensasi Rp2 juta. Itu sangat tidak sebanding dengan kerugian nelayan,” tambah Dina.
Para nelayan mendesak pemerintah daerah dan instansi terkait untuk turun tangan memastikan perusahaan memasang rambu navigasi sesuai ketentuan jalur pelayaran. Mereka berharap ada solusi adil agar aktivitas melaut dapat kembali berjalan tanpa risiko keselamatan.
Salah satu korban, Zulkifli, menceritakan detik-detik kapal miliknya menghantam tiang besi tersebut pada malam hari. Ia mengaku tidak melihat adanya lampu peringatan di lokasi.
“Kurang lebih pukul 10 malam sampai jam 5 pagi kapal baru bisa lepas dari situ,” ungkapnya.
Selama hampir tujuh jam, ia bersama awak kapal berupaya melepaskan kapal yang tersangkut dalam kondisi gelap dan ombak laut. Kapalnya mengalami kerusakan cukup berat akibat benturan tersebut.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak media telah berupaya melakukan konfirmasi kepada Humas PT Energi Mega Persada melalui pesan singkat WhatsApp pada Minggu (1/3/2026). Namun, belum ada tanggapan resmi yang diberikan terkait insiden maupun tuntutan nelayan.
Kasus ini menambah daftar persoalan keselamatan pelayaran di wilayah pesisir Langkat. Nelayan berharap ada langkah konkret dan transparan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.KM-Zai

