Dirjen Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes Maria Endang Sumiwi dalam webinar Pekan Gizi Nasional yang diikuti di Jakarta, Kamis (29/1/2026).
koranmonitor – JAKARTA | Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Maria Endang Sumiwi berharap, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mampu menurunkan angka kekurangan sel darah merah atau anemia pada ibu hamil.
Maria mengungkapkan, berdasarkan data Kemenkes, prevalensi anemia pada ibu hamil menunjukkan tren penurunan. Lima tahun lalu, angka anemia tercatat sebesar 48 persen, sedangkan saat ini turun menjadi 27 persen.
“Kalau dulu satu dari dua ibu hamil mengalami anemia, sekarang satu dari tiga. Ini sudah membaik, tetapi masih harus turun jauh lagi jika ingin berada di bawah lima persen. Program MBG menyasar ibu hamil dan mudah-mudahan bisa memenuhi target tersebut,” kata Maria dalam webinar Pekan Gizi Nasional yang diikuti di Jakarta, Kamis (29/1/2026).
Ia menekankan pentingnya pemenuhan gizi bagi ibu hamil karena berperan besar dalam perkembangan otak anak. Menurutnya, sekitar 75 persen pembentukan otak manusia terjadi sejak dalam kandungan hingga usia tiga tahun.
“Sekitar 75 persen otak manusia dibentuk di dalam kandungan dan selesai pada usia tiga tahun. Jika gizi saat kehamilan tidak terpenuhi, perkembangan otak anak bisa terhambat,” ujarnya.
Maria juga memaparkan hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang menunjukkan sebanyak 10 persen anak usia dua tahun mengalami anemia.
“Artinya, satu dari 10 balita usia dua tahun masih anemia. Ini menjadi pekerjaan rumah kita. Dengan MBG, diharapkan angka anemia pada balita dapat menurun,” katanya.
Selain itu, prevalensi anemia pada anak usia sekolah juga masih tergolong tinggi. Pada siswa SMP kelas I dan SMA kelas I, angka anemia tercatat sebesar 27 persen atau sekitar satu dari tiga anak.
“Dengan pemenuhan gizi yang lebih baik melalui MBG, diharapkan anak tumbuh optimal, konsentrasi meningkat, dan angka anemia bisa ditekan,” ujarnya.
Maria menambahkan, salah satu tujuan Program MBG adalah meningkatkan rata-rata tingkat kecerdasan (IQ) masyarakat Indonesia agar setidaknya setara dengan Jepang yang berada di angka 115.
“Saat ini rata-rata IQ kita masih di kisaran 80. Jika pemenuhan gizi tidak tercapai, maka perkembangan generasi muda, bahkan sejak dalam kandungan, tidak akan optimal,” tuturnya.
Oleh karena itu, Maria menegaskan pemerintah terus mendorong perbaikan dan pemenuhan gizi melalui Program MBG dengan melibatkan berbagai pihak guna mewujudkan generasi masa depan Indonesia yang sehat dan berkualitas. KMC/R

