Emas dan rupiah.
koranmonitor – MEDAN | Setelah sempat menguat di awal sesi perdagangan, IHSG berbalik arah dan pada akhirnya ditutup melemah 0.43% di level 8.274,081.
Selama sesi perdagangan berlangsung, kinerja IHSG ditransaksikan dalam rentang 8.251 hingga 8.376. Sejumlah emiten besar yang turut memicu koreksi pada IHSG diantaranya adalah BBCA, BMRI, BBRI, ASII hingga HMSP.
Menurut Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, kinerja IHSG sedikit berbeda arah dibandingkan dengan mayoritas bursa saham di Asia pada umumnya.
Sementara itu Bank Indonesia (BI) tetap mempertahankan kebijakan suku bunga acuannya di level 4.75% pada perdagangan hari ini. Keputusan tersebut masih sesuai dengan harapan pasar, meskipun tidak begitu banyak menyelamatkan IHSG, namun kebijakan tersebut direspon positif oleh Rupiah.
“Mata uang Rupiah yang sempat alami pelemahan di atas level Rp16.900 per US Dolar pada sesi perdagangan pagi, berbalik arah dan ditutup menguat ke level Rp16.870 per US Dolar,” sebutnya melalui keterangan tertulis, Kamis (19/2/2026).
Pelaku pasar merespon positif kebijakan BI, ditengah spekulasi bahwa The Fed cenderung akan menahan besaran bunga acuannya sejauh ini. Meskipun tidak ada jaminan bahwa The Fed akan benar-benar melakukannya, mengingat pasar masih membutuhkan sejumlah sinyal (data) lain yang akan menjadi fokus selanjutnya.
Terpisah harga emas dunia nyaris menyentuh level psikologis $5.000 per ons, walaupun sejauh ini masih ditransaksikan dikisaran $4.997 per ons troy.
“Harga emas dunia masih berkutat dikisaran angka Rp2.7 juta per gram. Harga emas membaik ditengah meningkatnya ketegangan di wilayah timur tengah. Tensi geopolitik belakangan ini kian memanas, meskipun perundingan antara AS dengan Iran baru akan dilangsungkan kembali sekitar 2 pekan yang akan datang,” tutupnya. KMC/R

