AS Ngotot Kuasai Greenland, Harga Emas Tembus $5.000 Per Ons

oleh
Tensi Geopolitik Sedikit Mereda, Harga Emas dan IHSG Alami Kenaikan
Emas.

koranmonitor – MEDAN | Sejumlah agenda penting ekonomi akan dirilis dalam sepekan kedepan. AS akan menjadi negara yang paling banyak merilis data ekonomi.

Selain data statistik resmi, pelaku pasar juga tengah menanti testimoni Presiden AS pada Selasa dan Rabu mendatang, berikut kebijakan moneter yang akan diambil oleh Bank Sentral AS pada hari Kamis nantinya.

“Pelaku pasar akan mencermati dengan seksama agenda tersebut. Pada awal pekan ini, IHSG menguat di level 8.967 pada sesi pembukaan perdagangan,” sebut Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin melalui keterangan tertulisnya, Senin (26/1/2026).

Sementara itu bursa saham di Asia mayoritas ditransaksikan di zona merah pada perdagangan pagi ini. Tekanan yang dialami sejumlah bursa di Asia berpeluang menyeret pelemahan pada IHSG.

Pada hari ini IHSG diproyeksikan akan berada dalam rentang 8.930 hingga 9.000 selama sesi perdagangan berlangsung. Disisi lain mata uang Rupiah ditransaksikan menguat ke level Rp16.755 per US Dolar.

Jelang kebijakan moneter The Fed, US Dolar berpeluang melemah seiring dengan memburuknya kinerja USD Indeks ke kisaran 97.06, dan diperburuk dengan imbal hasil US Treasury 10 tahun yang turun ke level 4.217%.

Menguatnya Rupiah akan menopang kinerja IHSG, meskipun dibayangi pelemahan bursa di Asia. Terpisah harga emas dunia kembali cetak rekor tertinggi baru di level $5.086 per ons troy, atau sekitar 2.75 juta per gram nya.

“Harga emas meroket setelah AS mempertegas akan mengambil kedaulatan wilayah Greenland untuk dijadikan pangakalan militer AS,” ujarnya.

Ditengah tekanan yang dialami oleh US Dolar, dan tensi geopolitik yang kian tidak menentu. Belakangan kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina menemui jalan buntu yang memicu koreksi di pasar keuangan. Meskipun kedua belah pihak sepakat untuk mengadakan putaran diskusi selanjutnya. KMC/R