BI Naikkan Suku Bunga SRBI dan BI-Rate, Perkuat Daya Tarik Investasi Asing serta Stabilitas Rupiah

BI: Kredit Perbankan 2025 Tumbuh 9,69 Persen, Masuk Target Proyeksi

Gubernur BI Perry Warjiyo.

koranmonitor – JAKARTA | Bank Indonesia (BI) kembali memperkuat kebijakan moneter dengan menaikkan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), untuk seluruh tenor 6, 9, dan 12 bulan.

Langkah ini dilakukan guna meningkatkan imbal hasil investasi portofolio, dan menjaga daya saing instrumen keuangan domestik di tengah dinamika global.

Kebijakan tersebut menyusul keputusan BI menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan pada Senin (9/6).

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan kenaikan struktur suku bunga SRBI dilakukan sesuai mekanisme pasar untuk menjaga daya tarik investasi portofolio Indonesia.

“Kenaikan struktur suku bunga SRBI dimaksud dilakukan sesuai mekanisme pasar dan untuk menjadikan investasi portofolio di Indonesia tetap kompetitif dengan negara lain,” ujar Perry dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Selain menaikkan suku bunga SRBI, BI juga memberikan insentif berupa penurunan tingkat swap lindung nilai (hedging swap) sebesar 10 persen bagi investor asing. Kebijakan tersebut ditujukan untuk meningkatkan minat investor asing sekaligus mengurangi beban kewajiban yang selama ini ditanggung investor dalam melakukan lindung nilai.

Bank sentral juga membuka kembali lelang instrumen repurchase agreement (repo) untuk tenor 3, 6, 9, dan 12 bulan bagi perbankan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan, dengan target pertumbuhan Uang Primer (M0) tetap berada di atas 10 persen.

Menurut Perry, perluasan fasilitas repo akan menjadi instrumen utama dalam pengelolaan likuiditas moneter dibandingkan mekanisme lain, termasuk pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Di sisi lain, BI meningkatkan intensitas operasi moneter rupiah dan valuta asing guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Untuk operasi moneter rupiah, BI akan menggelar lelang SRBI dua kali dalam sepekan. Sementara pada pasar valas, intervensi diperkuat melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri.

BI juga menegaskan komitmennya memperkuat koordinasi dengan pemerintah dalam menyelaraskan kebijakan moneter dan fiskal. Koordinasi tersebut difokuskan pada peningkatan daya tarik investasi portofolio asing, khususnya pada SRBI dan SBN, serta menjaga kecukupan likuiditas melalui pengelolaan kas pemerintah di Bank Indonesia.

Perry menilai sinergi fiskal dan moneter yang selama ini terjalin akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

Sebelumnya, BI telah menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada RDG Mei 2026. Kenaikan tersebut merupakan penyesuaian pertama setelah suku bunga acuan dipertahankan di level 4,75 persen sejak September 2025. Sepanjang 2025, BI tercatat memangkas suku bunga acuan sebanyak lima kali dengan total penurunan 125 basis poin. KMC/R

Exit mobile version