koranmonitor – JAKARTA | Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, memaparkan sejumlah sektor strategis yang perlu didorong untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 5 persen pada 2026 di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Rahma mengatakan Indonesia tidak dapat bergantung pada satu sektor saja, melainkan harus mengoptimalkan kombinasi sektor tradisional dan modern yang memiliki nilai tambah tinggi.
Sektor pertama yang dinilai tetap menjadi tulang punggung adalah industri pengolahan atau manufaktur, dengan kontribusi sekitar 19–20 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Ia menekankan pentingnya penguatan hilirisasi sumber daya alam seperti nikel, tembaga, dan bauksit menjadi produk setengah jadi maupun produk akhir untuk ekspor, termasuk pengembangan rantai pasok industri baterai hingga perakitan kendaraan di dalam negeri.
Sektor kedua adalah pertanian dan ketahanan pangan yang mulai menunjukkan peran sebagai mesin pertumbuhan baru. Pada 2025, sektor ini tumbuh di atas 5 persen, berbalik dari tren sebelumnya yang berada di bawah 2 persen.
Rahma menilai penyederhanaan distribusi pupuk dan alat mesin pertanian serta implementasi program lumbung pangan penting untuk menjaga stabilitas harga dan meningkatkan produktivitas.
Sektor ketiga adalah konsumsi rumah tangga yang berkontribusi sekitar 54 persen terhadap PDB. Ia menekankan perlunya menjaga daya beli masyarakat melalui stabilitas harga pangan dan penciptaan lapangan kerja, serta percepatan realisasi belanja pemerintah sejak awal tahun.
Menurutnya, proyek infrastruktur seperti pembangunan irigasi, waduk, embung, serta perbaikan jalan dan jembatan dapat meningkatkan perputaran ekonomi sekaligus membuka lapangan kerja melalui program padat karya.
Selain itu, aliran investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) juga dinilai penting karena memiliki efek berganda terhadap penciptaan lapangan kerja formal.
Sektor keempat adalah energi hijau, khususnya pengembangan energi terbarukan. Rahma menilai program biodiesel B50 yang dijadwalkan mulai Juli 2026 berpotensi menghemat anggaran hingga Rp48 triliun jika dijalankan secara optimal.
Ia juga menyoroti pentingnya investasi di sektor teknologi dan ekonomi digital sebagai sumber pertumbuhan baru di masa depan.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan optimisme pertumbuhan ekonomi didukung oleh kuatnya fundamental domestik, terutama konsumsi rumah tangga yang menyumbang sekitar 54 persen terhadap PDB.
Dari sisi fiskal, kinerja APBN hingga kuartal I 2026 menunjukkan tren positif dengan penerimaan pajak hingga Maret meningkat 14,3 persen menjadi sekitar Rp462,7 triliun. Sektor manufaktur juga dilaporkan masih berada dalam fase ekspansi.
Selain itu, ketahanan pangan nasional dinilai terjaga dengan produksi beras 2025 mencapai 34,7 juta ton dan stok beras Perum Bulog sekitar 4,6 juta ton.
Pemerintah juga menyiapkan berbagai kebijakan strategis untuk menjaga momentum pertumbuhan dan stabilitas ekonomi, termasuk implementasi program Biodiesel B50 yang mulai berlaku 1 Juli 2026, dengan potensi penghematan anggaran hingga Rp48 triliun.
Di sisi lain, pemerintah menegaskan komitmen menjaga disiplin fiskal dengan mempertahankan rasio utang di kisaran 40 persen terhadap PDB, di bawah batas maksimal 60 persen, serta menjaga defisit anggaran sekitar 3 persen hingga akhir tahun. KMC/R
