Jelang Imlek, Harga Sejumlah Kebutuhan Pangan Masih Stabil

oleh -47 views
Waspadai Perlambatan Ekonomi AS, Pelaku Pasar Akan Banyak Mengambil Posisi Wait And See
Gunawan Benyamin

JIKA di bulan Januari kita melihat ada beberapa kenaikan pada harga sejumlah kebutuhan pangan strategis, seperti minyak goreng, gula pasir dan beras. Maka di bulan februari ini, khususnya jelang perayaan Imlek harga sejumlah kebutuhan pangan pokok relatif stabil.

Dari hasil pemantauan papan harga melalu PIHPS (pusat informasi harga pangan strategis), banyak kebutuhan masyarakat yang nyaris tidak mengalami perubahan selama bulan februari.

Rata-rata harga cabai merah masih bertahan dikisaran Rp35 ribuan per Kg, cabai rawit Rp39 ribu per Kg, daging ayam Rp31 ribu per Kg, bawang merah diangka Rp30.700 per Kg, bawang putih Rp36.600 per Kg, beras bergerak dalam rentang Rp13.850 hingga Rp14.850 per Kg (medium ke super), daging ayam Rp31 ribu per Kg, daging sapi Rp135 ribu per Kg, gula pasir Rp17.600 per Kg, dan minyak goreng curah berada di level Rp15.700 per Kg nya.

Ditambah lagi harga telur yang juga bertahan di angka yang sama Rp1.600 per butir ukuran sedang, dan harga tomat yang turun dikisaran Rp13 ribu hingga Rp16 ribu per Kg. Secara keseluruhan harga kebutuhan pangan strategis di bulan februari bergerak stabil dan bahkan cenderung membentuk deflasi.

Hari besar Imlek memang selama ini kerap tidak menjadi pemicu kenaikan harga sejumlah komoditas pangan strategis. Trennya setiap tahun kerap seperti itu, dan memiliki kecenderungan stabil untuk kinerja inflasi selama imlek.

Saya menilai pemerintah tidak perlu mengkuatirkan dampak dari perayaan Imlek terhadap pembentukan harga di pasar.

Hal ini dikarenakan bahwa jumlah masyarakat yang merayakan Imlek jauh lebih sedikit dibandingkan dengan masyarakat yang merayakan ramadhan – idul fitri, atau masyarakat yang merayakan natal dan tahun baru.

Saya menilai belanja kampanye selama januari – februari ini justru lebih besar memberikan kontribusi perubahan harga, ketimbang perayaan Imlek itu sendiri. (Penulis: Gunawan Benjamin, Pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara)