Site icon

Hubungan AS – Eropa Memburuk, Harga Emas Cetak Rekor Baru, Rupiah Turun Dekati Rp17.000

Emas dan rupiah.

koranmonitor – MEDAN | Data pertumbuhan ekonomi (GDP) China menjadi data pembuka pada perdagangan hari ini.

Selanjutnya pada perdagangan besok Bank Sentral China (PBoC) akan mengeluarkan kebijakan moneternya, dengan menetapkan besaran bunga pinjamannya. Dan pada perdagangan hari Rabu mendatang, Bank Indonesia akan mengeluarkan kebijakan suku bunga acuannya.

“Dan di hari kamis mendatang giliran AS yang akan merilis sejumlah data penting. Salah satunya adalah data pertumbuhan ekonomi (GDP) AS yang diproyeksikan naik dikisaran 4% secara kuartal di Q3. Dan di hari Jumat, ada kebijakan moneter dari Bank Sentral Jepang (BoJ) yang akan menjadi penutup agenda ekonomi penting selama sepekan,” sebut Pengamat Ekonomi Sumut Gunawan Benjamin, melalui keterangan tertulisnya, Senin (19/1/2026).

Ada banyak agenda ekonomi yang akan dirilis selama sepekan ini. Di awal pekan ini bursa saham di Asia bergerak mixed dengan kecenderungan melemah. Sementara itu, IHSG dibuka menguat di level 9.098, meskipun sejauh ini ditransaksikan di zona merah. Sementara itu, mata uang Rupiah ditransaksikan melemah ke level Rp16.900.

“Kombinasi memburuknya bursa saham di Asia, ditambah dengan kinerja mata uang Rupiah yang melemah dekati Rp17.000, akan membebani kinerja IHSG selama sesi perdagangan berlangsung,” ujarnya.

Terpisah harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi baru di kisaran level $4.661 per ons troy, atau sekitar 2.51 juta per gram.

“Harga emas naik ditengah rencana AS menaikkan tarif impor ke Eropa. Setelah sebelumnya AS bersitegang dengan Eropa terkait aneksasi wilayah Greenland,” tutupnya. KMC/R

Exit mobile version