koranmonitor – MEDAN | Presiden AS kian serius untuk mengganti Gubernur Bank Sentral AS (The Fed) dalam waktu dekat.
Sikap Presiden AS tersebut pada dasarnya bisa memicu tekanan pada mata uang US Dolar. Karena sejauh ini kebijakan Bank Sentral AS masih belum sejalan dengan apa yang diinginkan oleh Presiden Trump. Dimana Presiden AS mengharapkan ada pemangkasan bunga acuan dalam waktu dekat.
Menurut Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, respon pasar dari pernyataan Presiden AS pada dasarnya bisa menjadi katalis positif bagi kinerja pasar keuangan di Asia.
Dimana pasar kian meyakini bahwa tekanan yang dilakukan AS terhadap The Fed akan menjadi pintu masuk kepastian penurunan bunga acuan kedepan. Namun Rupiah masih mengalami pelemahan di sesi perdagangan pagi.
“Mata uang rupiah melemah di kisaran level Rp16.795 per US Dolar. USD Index terpantau bergerak menguat terbatas di level 96.61. Sementara itu IHSG pada perdagangan pagi ini dibuka menguat di level 8.308, namun berbalik arah dan ditransaksikan melemah di kisaran level 8.220,” sebutnya melalui keterangan tertulisnya, Jumat (30/1/2026).
IHSG diproyeksikan masih akan mengalami tekanan pada perdagangan akhir pekan ini dalam rentang yang sangat lebar 8.150 hingga 8.310.
Disisi lain harga emas dunia kembali mengalami koreksi teknikal setelah sempat menguat tajam di perdagangan sebelumnya.
“Harga emas dunia saat ini ditransaksikan dikisaran level $5.152 per ons troy, atau sekitar 2.8 juta per gram. Emas masih memiliki potensi untuk berbalik menguat, setidaknya ada dua hal utama pemicu kenaikan emas. Pertama potensi penurunan bunga acuan The Fed, dan kedua perang dengan Iran yang kian dekat,” tutupnya. KMC/R