Iran-AS Memanas Picu Kenaikan Harga Minyak, Rupiah dan IHSG Melemah

Iran-AS Memanas Picu Kenaikan Harga Minyak, Rupiah dan IHSG Melemah

Gunawan Benjamin.

koranmonitor – MEDAN | Data serapan tenaga keja diluar sektor pertanian AS (ADP Nonfarm Employment Change) melambat menjadi 24 ribu pada bulan Januari. Angka tersebut lebih kecil dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Respon USD index dan imbal hasil US Treasury 10 tahun pada perdagangan pagi ini terpantau naik, dimana USD Index bertahan tinggi di level 97.65 dan US Treasury berada dikisaran level 4.279%.

“Sementara itu, mayoritas bursa saham di Asia pada perdagangan hari ini ditransaksikan melemah. Namun IHSG pada sesi pembukaan perdagangan mampu menguat tipis di level 8.154,6, walaupun kerap masuk ke zona merah sejauh ini,” sebut Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin melalui keterangan tertulisnya, Kamis (5/2/2026).

Minimnya agenda ekonomi pada pasar keuangan di Asia diproyeksikan tidak akan banyak berpengaruh pada IHSG. Kinerja IHSG akan lebih banyak dipengaruhi oleh banyaknya sentimen tanah air yang berkembang setelah Pemerintah merespon kebijakan MSCI (Morgan Stanley Capital International).

“Seirama dengan IHSG, kinerja mata uang Rupiah pada perdagangan pagi ini ditransaksikan melemah ke level Rp16.765 per US Dolar. Rupiah masih akan menghadapi tekanan ditengah potensi penguatan US Dolar terhadap mata uang rivalnya. Potensi tekanan terhadap Rupiah juga berpeluang alami peningkatan ditengah kenaikan harga minyak mentah dunia,” ujarnya.

Ketegangan antara Iran dan AS yang kian memanas sejauh ini telah mendorong kenaikan harga minyak mentah jenis brent ke level $68.95 per barel.

“Disisi lain harga emas dunia ditransaksikan melemah dikisaran level $4.983 per ons troy, atau sekitar 2.7 juta per gram. Potensi penguatan harga emas pada perdagangan hari ini sangat terbatas, seiring dengan pelaku pasar yang masih menanti sejumlah rilis data penting dari AS,” tutupnya. KMC/R

Exit mobile version