Kabar Berakhirnya Konflik AS-Iran Dorong Penguatan IHSG, Rupiah, dan Harga Emas

Emas dan rupiah.

koranmonitor – MEDAN | Kabar mengenai kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung sekitar empat bulan menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan global.

Mayoritas bursa saham Asia bergerak di zona hijau pada perdagangan hari ini, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dibuka menguat ke level 6.118.

Pengamat Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan bahwa sentimen positif tersebut turut mendorong penguatan nilai tukar rupiah pada sesi perdagangan pagi. Rupiah tercatat menguat ke level Rp17.745 per dolar AS.

Menurutnya, penguatan sektor keuangan domestik tidak hanya dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik global, tetapi juga oleh meningkatnya minat investor terhadap instrumen surat berharga yang diterbitkan pemerintah Indonesia.

“Setelah sebelumnya imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun sempat mendekati 7,5 persen dan saat ini berada di kisaran 7,165 persen, yield SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) yang menyentuh level 7,5 persen turut mendorong penguatan rupiah,” ujar Gunawan dalam keterangan tertulis, Senin (15/6/2026).

Ia menjelaskan, kenaikan yield SRBI tenor 12 bulan pasca keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi daya tarik tersendiri bagi investor asing untuk menempatkan dana pada instrumen surat utang domestik.

Dengan kombinasi sentimen positif tersebut, Gunawan menilai IHSG dan rupiah berpeluang bertahan di zona hijau sepanjang sesi perdagangan. Selain itu, minimnya agenda rilis data ekonomi penting pada hari ini diperkirakan membuat pergerakan pasar relatif stabil dan terhindar dari tekanan signifikan.

Sementara itu, harga emas dunia juga menunjukkan tren penguatan. Pada perdagangan hari ini, emas diperdagangkan di level US$4.335 per troy ons atau setara sekitar Rp2,48 juta per gram.

Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati potensi meningkatnya tekanan inflasi global yang dapat memicu respons bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), melalui kebijakan kenaikan suku bunga acuan. Kondisi tersebut berpotensi menjadi faktor penahan laju kenaikan harga emas dalam jangka pendek. KMC/R

Exit mobile version