koranmonitor – MEDAN | Pasar keuangan kembali berada dalam tekanan setelah ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran memanas di Selat Hormuz, Jumat (8/5/2026). Kondisi tersebut membantah optimisme pasar sehari sebelumnya terkait potensi perdamaian antara kedua negara.
Tekanan geopolitik itu berdampak langsung terhadap pergerakan nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sama-sama ditutup di zona merah.
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan rupiah ditutup melemah di level Rp17.360 per dolar Amerika Serikat (AS), setelah sempat menyentuh level Rp17.390 per dolar AS.
“Yang patut disayangkan, pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini justru terjadi di saat indeks dolar AS (USD Index) mengalami pelemahan di kisaran 97,9. Di sisi lain, IHSG tiba-tiba terpuruk meski rupiah sempat mampu mengurangi kerugiannya,” ujar Gunawan Benjamin dalam keterangan tertulisnya.
IHSG ditutup melemah 2,86 persen ke level 6.969,396. Sebanyak 575 saham tercatat mengalami penurunan, 133 saham menguat, dan 108 saham bergerak stagnan.
Sejumlah saham emiten yang mengalami tekanan pada perdagangan hari ini antara lain BMRI, BBCA, BBRI, BUMI, TINS, AMMN, BRMS, INCO, hingga ANTM. Sektor pertambangan menjadi sektor dengan koreksi terdalam dibandingkan sektor lainnya.
Menurut Gunawan, tekanan pada saham sektor pertambangan dipicu oleh rencana pemerintah menerapkan pajak baru untuk sektor batu bara dan nikel.
Sementara itu, harga emas dunia tercatat bergerak stabil di level US$4.713 per ons troy atau setara sekitar Rp2,64 juta per gram.
“Pasar secara keseluruhan masih dihantui dinamika tensi geopolitik yang belum menentu. Kondisi ini menciptakan volatilitas yang cukup tinggi di pasar keuangan,” pungkasnya. KMC/R
