Mendag: Perjanjian Dagang dengan AS dan Uni Eropa Jadi Magnet Investasi ke Indonesia

Mendag: Perjanjian Dagang dengan AS dan Uni Eropa Jadi Magnet Investasi ke Indonesia

Mendag Budi Santoso ditemui usai acara Indonesia-Thailand Business Forum di Jakarta.

koranmonitor – JAKARTA | Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyatakan semakin banyaknya perjanjian perdagangan yang dimiliki Indonesia, akan meningkatkan daya tarik investasi dari berbagai negara.

Menurutnya, kesepakatan perdagangan dengan mitra strategis seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa membuka peluang lebih besar bagi investor untuk menjadikan Indonesia sebagai basis ekspor ke pasar global.

Budi menyampaikan hal tersebut usai menghadiri Indonesia-Thailand Business Forum di Jakarta, Selasa (4/8/2026). Ia menjelaskan, negara-negara yang belum memiliki perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat maupun Uni Eropa akan melihat Indonesia sebagai lokasi yang strategis untuk memperluas akses ke kedua pasar tersebut.

“Perjanjian perdagangan kita yang semakin banyak, termasuk dengan Amerika dan nanti dengan Uni Eropa, ternyata menarik investasi,” ujar Budi.
Menurutnya, investor dari negara lain dapat memanfaatkan Indonesia sebagai pintu masuk untuk menembus pasar Amerika Serikat dan Uni Eropa yang selama ini sulit diakses tanpa adanya perjanjian perdagangan.

Budi juga mengungkapkan Amerika Serikat masih menjadi salah satu pasar ekspor terbesar Indonesia. Pada tahun sebelumnya, nilai surplus perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat mencapai sekitar 18,11 miliar dolar AS, sementara pangsa pasar ekspor ke negara tersebut mencapai 11,1 persen.

“Artinya surplus terbesar kita masih ke Amerika. Ini menunjukkan pasar Amerika sangat penting bagi Indonesia,” katanya.

Karena itu, Budi menilai perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat merupakan peluang strategis yang harus dimanfaatkan untuk meningkatkan ekspor nasional dan memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar internasional.

Selain itu, Budi optimistis kinerja ekspor Indonesia akan terus meningkat melalui strategi yang tepat dalam menghadapi dinamika global dan perubahan geopolitik. Menurutnya, kondisi tersebut justru dapat mempercepat perubahan pola perdagangan dunia dan membuka peluang pasar baru.

Pemerintah, lanjut Budi, juga terus mempercepat penyelesaian berbagai perjanjian perdagangan dengan negara-negara lain, termasuk di kawasan Timur Tengah, guna memperluas akses pasar bagi produk ekspor Indonesia. KMC/R/ant

Exit mobile version