koranmonitor – MEDAN | Tekanan yang dialami IHSG pada perdagangan hari ini berlanjut. Di sesi pembukaan perdagangan IHSG dibuka melemah di level 8.027.
Bahkan saat berita ini diturunkan, IHSG tengah alami koreksi sebesar 8%, dan transaksi perdagangan di bursa dihentikan sementara (trading halt).
“Pelemahan IHSG masih dipicu oleh isu yang sama yaitu kebijakan MSCI (Morgan Stanley Capital International) menunda rebalancing indeks saham Indonesia,” sebut Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin melalui keterangan tertulisnya, Kamis (29/1/2026).
Dampak dari kebijakan tersebut tentunya sulit untuk diperkirakan akan sampai di titik mana tekanannya. Ditambah dengan koreksi berjamaah yang terjadi pada bursa saham di Asia, berpeluang menambah tekanan baru bagi kinerja IHSG selama sesi perdagangan hari ini.
“Sementara itu, mata uang Rupiah juga ditransaksikan melemah ke level Rp16.795 per US Dolar,” ujarnya.
Pelemahan Rupiah juga akan turut membebani IHSG pada perdagangan hari ini. Kebijakan Bank Sentral AS (The Fed) yang mempertahankan besaran bunga acuannya menjadi kabar buruk bagi Rupiah di hari ini.
Setelah kebijakan The Fed imbal hasil US Treasury terpantau alami kenaikan, termasuk juga kinerja USD Index yang berbalik menguat dikisaran level 96.22.
Dan yang lebih mengejutkan lagi harga emas dunia ditransaksikan naik di level $5.530 per Ons Troy. Setelah The Fed mempertahankan besaran bunga acuannya, harga emas semakin menguat karena penurunan bunga acuan Bank Sentral AS akan tetap terjadi di tahun ini.
“Dan yang membuat harga emas naik tak terbendung adalah kian dekatnya perang antara AS dengan Iran. Jika dirupiahkan harga emas saat ini ditransaksikan sekitar Rp3 juta per gramnya,” tutupnya. KMC/R
