Kepala Dinas Sosial Sumut Illyan Chandra Simbolon meninjau warga binaan membuat batik Ciprat di UPTD Pelayanan Sosial Tuna Daksa dan Tuna Netra Sei Buluh, Kota Tebing Tinggi. (Foto. KMC)
koranmonitor – TEBING TINGGI | Keterbatasan fisik terbukti bukan menjadi penghalang untuk melahirkan karya seni, yang bernilai ekonomi tinggi.
Di UPTD Pelayanan Sosial Tuna Daksa dan Tuna Netra Sei Buluh, Kota Tebing Tinggi, sebuah inovasi luar biasa tengah lahir dari tangan-tangan kreatif warga binaan melalui kerajinan “Batik Ciprat”.
Produk fesyen ini bukan batik biasa. Melalui metode ciprat manual, setiap lembar kain atau kaos yang dihasilkan dipastikan menjadi produk limited edition (edisi terbatas) yang tidak akan pernah bisa ditiru atau disamai oleh siapa pun, bahkan oleh pembuatnya sendiri.
Keunikan dan potensi besar inilah yang disaksikan langsung oleh Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Sumatera Utara, Dr. Illyan Chandra Simbolon, S.STP, M.SP, saat mengunjungi UPTD tersebut, Rabu 8 Juli 2026.
Kunjungan kerja ini menegaskan komitmen Pemprov Sumut dalam mendorong pemberdayaan sosial yang inklusif, produktif, dan berkelanjutan.
“Di UPTD ini dihuni sekitar 30 orang yang terdiri dari teman-teman tuna netra dan tuna daksa. Kami mengkolaborasikan kemampuan mereka. Hasilnya luar biasa, cipratan manual ini membuat setiap baju atau kemeja yang diproduksi pasti limited edition, karena polanya tidak akan pernah bisa sama persis,” ujar Illyan dengan nada bangga.
Dinsos Sumut sengaja menghadirkan instruktur profesional untuk membimbing warga binaan. Hasilnya, kain dan kaos batik ciprat yang mereka produksi mencerminkan ketelitian tinggi, kreativitas tanpa batas, serta semangat juang yang luar biasa.
Meski memiliki nilai estetika yang tinggi, Illyan mengakui bahwa program pembinaan yang sudah berjalan baik ini masih membentur dinding klasik, akses permodalan dan pemasaran.
Saat ini, bahan baku praktek yang digunakan masih seadanya. Untuk menaikkan kelas produk ini menjadi kualitas premium, dibutuhkan modal lebih untuk membeli bahan bakal kain, kaos, hingga zat perekat warna yang berkualitas tinggi agar produk akhir tidak mudah luntur dan nyaman dipakai.
“Instruktur sudah ada, pembinaan terus berjalan. Sekarang fokus kita adalah modal untuk meningkatkan kualitas bahan baku agar bernilai premium, serta membuka akses pasar yang lebih luas,” jelasnya.
Bergerak cepat mengatasi tantangan tersebut, Dinsos Sumut tengah menjajaki kerja sama strategis dengan PT Pertamina. Pihaknya telah mengajukan proposal untuk mengamankan dukungan permodalan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Jika kerja sama ini terwujud, Dinsos Sumut sudah menyiapkan cetak biru (blueprint) pemasaran modern. “Ke depan, penjualan dan transaksinya akan kita arahkan penuh secara online untuk memudahkan pembeli dan memperluas jangkauan pasar,” tambah Illyan.
Tak berhenti di situ, Pemprov Sumut juga berencana menggelar pelatihan kompetensi yang disesuaikan dengan kebutuhan industri modern. Tujuannya mulia: memastikan para penyandang disabilitas memiliki sertifikasi dan kemampuan yang diakui, sehingga mereka dapat diserap sebagai pekerja formal di berbagai perusahaan.
Di akhir kunjungannya, Illyan memberikan apresiasi mendalam kepada para instruktur dan warga binaan yang tak lelah menempa diri.
“Karya-karya ini adalah bukti nyata bahwa kreativitas tidak punya batas. Melalui pembinaan yang konsisten, kita optimistis keterampilan ini akan membuka peluang usaha mandiri, meningkatkan kesejahteraan ekonomi mereka, dan membuktikan bahwa mereka mampu berdaya di tengah masyarakat,” jelasnya. KM-fah/R

