koranmonitor – MEDAN | Harga emas yang melambung tinggi dan sedikit lagi menyentuh level $5.000 terjadi disaat pemimpin sejumlah negara eropa merespon positif langkah AS yang menarik diri dari rencana kenaikan tarif.
Langkah tersebut diambil setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa, akses total dan permanen ke Greenland akan melalui kesepakatan dengan NATO.
Meskipun demikian Denmark masih bersikeras bahwa kedaulatan Greenlad tidak bisa dinrgeosiasikan. Sehingga pasar kedepan menanti bagaimana detail kesepakatan AS dengan NATO, seraya menanti sikap lanjutan yang akan diambil Denmark nantinya.
“Harga emas pada sesi perdagangan sore terpantau turun ke level $4.923 per ons troy, atau sekitar 2.7 juta per gram,” sebut Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin melalui keterangan tertulisnya, Jumat (23/1/2026).
Tensi geopolitik terlihat mulai mereda, namun ketidakpastian kepemimpinan Gubernur Bank Sentral AS masih menjadi sentimen positif bagi emas. Sekalipun data inflasi AS masih sesuai ekspektasi, namun pelaku pasar masih melihat potensi penurunan bunga acuan di tahun ini.
“Disisi lain mata uang Rupiah ditutup menguat di level Rl16.810 per US Dolar,” ujarnya.
Ditengah minimnya sentimen pasar saat ini, spekulasi kebijakan moneter longgar The Fed menjadi katalis positif bagi Rupiah.
“Sementara itu IHSG tidak mampu keluar dari zona merah setelah seharian alami tekanan jual. IHSG melemah 0.46% di level 8.951,01, berbeda dengan kinerja mayoritas bursa saham di Asia yang ditransaksikan menguat,” tutupnya. KMC/R










