Pangan
koranmonitor – MEDAN | Tentunya angka garis kemiskinan yang direpresentasikan dengan pengeluaran masyarakat, sangat berpeluang menciptakan gangguan daya beli masyarakat miskin dalam periode waktu tertentu.
“Seperti misalkan ada masyarakat miskin yang langsung terpuruk daya belinya saat harga cabai naik tajam. Atau sumbangan pada komoditas volatile food berpeluang membuat masyarakat miskin menjadi sangat rentan alami gangguan pengeluaran selama periode kenaikan harga pangan itu sendiri,” sebut Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin.
Jika melihat data BPS pada September 2025, 7 komoditas yang menyumbang porsi terbesar pengeluaran masyarakat yang membentuk angka garis kemiskinan diantaranya adalah Beras, Rokok, ikan segar, telur ayam, daging ayam dan cabai merah.
Untuk dua komoditas seperti beras dan rokok, harganya memang cenderung lebih stabil karena ada peran pemerintah yang menstabilkan harga untuk dua komoditas tersebut.
Sementara untuk daging ayam, cabai merah dan ikan segar harganya bergerak sangat volatile. Terlebih cabai merah yang terkadang bisa bergerak seperti roller coaster.
“Sebagai contoh saat ini harga cabai merah di kota medan dan sekitarnya berkisar Rp30.000 hingga Rp35.000 per Kg. Padahal harganya sempat menyentuh Rp70.000 pada Desember silam khususnya saat bencana besar terjadi,” sebutnya melalui keterangan tertulisnya, Selasa (10/2/2026).
Sehingga jika berlandaskan besaran garis kemiskinan sebesar Rp755.041 per bulan untuk wilayah perkotaan, dan Rp 671.746 per bulan untuk wilayah pedesaan.
“Maka angka tersebut tidak lantas bisa dijadikan sebagai acuan sepenuhnya. Kita ambil contoh saat harga ikan, cabai merah, telur ayam dan daging ayam naik dalam satu bulan penuh, seperti harga cabai merah yang sempat menyentuh Rp200.000 per Kg di kepulauan Nias Desember kemarin,” ujarnya.
Maka akan ada banyak masyarakat yang pengeluarannya membengkak. Dan secara presentase nominal pengeluaran tersebut bisa saja tidak lagi mengikuti kaidah BPS, karena untuk sementara waktu bisa saja pengeluaran masyarakat dikala terjadi lompatan harga pangan tadi bergeser ke komoditas lainnya. Bersyukur jika seandainya pergeseran tersebut menggerus pengeluaran untuk kebutuhan rokok.
Namun sangat disayangkan jika pengeluaran untuk rokok tersebut justru tetap bertahan. Jadi bagi masyarakat yang pengeluaran perkapitanya berada di kisaran angka garis kemiskinan. “Maka pada dasarnya setiap hari mereka bisa saja berubah status dari satu keadaan (miskin) ke keadaan lain (diatas garis kemiskinan). Atau saya menyebutnya kemiskinan fluktuatif atau volatile poverty,” tutupnya. KMC/R

