BBM non bersubsidi
koranmonitor – MEDAN | Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang non subsidi sudah tepat jika mengacu kepada mekanisme pasar. Artinya disaat harga minyak mentah dunia saat ini bertahan mahal dalam rentang $90 hingga $113 per barel.
Maka sudah bisa dipastikan bahwa harga BBM non subsidi secara otomatis HPP-nya (harga pokok produksi) alami kenaikan. Bandingkan dengan periode sebelum perang Iran – AS pecah dimana harga minyak mentah berada diksiaran $60-an pe rbarel.
Menurut Pengamat Ekonomi Sumut Gunawan Benjamin, kenaikan harga untuk BBM jenis pertamax turbo, pertamina dex dan dexlite tidak akan memicu inflasi besar.
Meskipun terjadi kenaikan yang cukup signifikan pada produk solar non subsidi di atas 64%, dan untuk pertamax turbo naik sebesar 48%. Sementara untuk jenis pertamax masih bertahan sejauh ini. Dampak inflasi yang ditimbulkan dari kenaikan BBM non subsidi kali ini juga tidak signifikan,” ujarnya melalui keterangan tertulisnya, Minggu (19/4/2026).
Menurutnya, berada dikisaran angka 0.25% hingga 0.35%. Yang perlu diwaspadai adalah kemungkinan terjadinya peralihan dari BBM non subsidi ke BBM jenis lainnya yang tidak mengalami kenaikan harga.
“Perlu dipantau terus terkait dengan konsumsi Pertamax serta Bio Solar. Karena kenaikan harga BBM di bulan ini berpeluang mendorong peningkatan konsumsi pada dua komoditas BBM tersebut,” ujarnya lagi.
Dampak kenaikan harga BBM non subsidi terhadap kemungkinan kenaikan harga pada komoditas lainnya juga sangat terbatas. Transmisi perubahan harga yang diakibatkan oleh kenaikan BBM non subsidi tidak begitu besar. Kecuali untuk jenis bahan bakan solar industri yang berpotensi mendorong kenaikan harga pokok produksi (HPP).
“Namun kenaikan BBM non subsidi yang naik lebih dari setengah harga tersebut memberikan isyarat bahwa harga keekonomian BBM subsidi itu jauh berada di bawah harga wajar. Jika tensi geopolitik tidak membaik, dan eskalasi perang meningkat dalam waktu dekat, maka masyarakat akan diselimuti rasa cemas dimana pemerintah bisa saja menaikkan harga BBM subsidi nantinya,” sebutnya.
Walaupun Menkeu menggaransi bahwa harga BBM subsidi tidak akan naik hingga akhir tahun. Namun dinamika pembentuk harga minyak saat ini sangat rentan membuat pemerintah lemah dalam mengelola fiskal. Terlebih jika ada penurunan outlook credit rating yang dilakukan Lembaga pemeringkat internasional. Dampaknya tekanan Rupiah sulit untuk dihindarkan, dan tentunya berpotensi mendorong kenaikan HPP untuk minyak subsidi dan menggerus ketahanan fiskal APBN.
Untuk itu Pertamina maupun Pemerintah harus tetap menjaga narasi yang bisa menghapus rasa cemas masyarakat. Saya menilai masyarakat akan cenderung berhati hati setiap jelang awal bulan, karena budaya menaikkan harga BBM subsidi itu terjadi di awal bulan. Masyarakat berpeluang menambah pembelian untuk sekedar berjaga-jaga (panic buying ringan). KMC/R

