IHSG, Rupiah dan Emas.
koranmonitor – MEDAN | Penguatan pada mayoritas bursa saham di Asia sempat mendorong penguatan pada IHSG. Selama sesi perdagangan IHSG ditransaksikan dalam rentang 7.323 hingga 7.436.
Namun IHSG berakhir di zona merah dengan ditutup melemah 0.37% di level 7.362,117. Sejumlah emiten yang turut membebani kinerja IHSG pada perdagangan hari ini diantaranya adalah BUMI, BBRI, ENRG, BBNI hingga ANTM.
“Kenaikan pada harga minyak mentah dunia membuka ruang kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat. Inflasi dikuatirkan akan memberikan tekanan besar pada kinerja ekonomi, yang berpeluang menekan kinerja emiten di pasar saham. Harga minyak dunia yang konsisten bertahan mahal diatas harga ICP (indonesia crude price) $70 dalam asumsi APBN 2026, menghantui kebijakan pemerintah yang akan lebih agresif dalam efisiensi anggaran,” sebut Pengamat Ekonomi Sumut Gunawan Benjamin.
Ditengah kenaikan harga minyak, permintaan US Dolar alami peningkatan yang berpeluang menggiring tekanan pada mata uang Rupiah. Dan pada perdagangan hari ini Rupiah ditutup melemah di level Rp16.885 per US Dolar.
“Imbal hasil US Treasury 10 tahun selama sesi perdagangan sempat naik di level 4.24%. USD Index yang naik ke level 99.34 juga turut membuka ruang penguatan Rupiah,” sebutnya dalam keterangan tertulisnya, Kamis (12/3/2026).
Terpisah harga emas ditransaksikan menguat ke level $5.183 per ons troy, atau masih dikisaran harga Rp2.82 juta per gram. Perang Iran yang diperkirakan akan berkepanjangan membuat emas masih berpeluang untuk menguat, sekalipun kerap dibayangi ancaman kebijakan bunga acuan The Fed yang bisa saja bernada hawkish. KMC/R

