koranmonitor – MEDAN | Penyidik Sat Reskrim Polrestabes Medan menegaskan, perkara korban pencurian yang ditetapkan sebagai tersangka penganiayaan telah sesuai prosedur hukum.
“Dalam perkara ini penyidik (Polrestabes Medan) tidak mencampuradukkan status korban maupun pelaku. Untuk Penetapan tersangka dilakukan berdasarkan alat bukti,” kata Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak, Kamis (5/2/2026).
Dia menyampaikan, kasus pencurian peristiwa terjadi di toko ponsel milik PP pada Senin 22 September 2025 lalu. Dalam perkara itu dua orang pelaku Glendito Oppusunggu dan Rizky Kristian terekam CCTV, saat melakukan aksi kejahatannya.
“Perkara pencurian itu telah inkrah di pengadilan dengan vonis 2 tahun 6 bulan penjara, untuk pelaku pencurian dan 1 tahun bagi penadahnya,” katanya.
Sementara, peristiwa dugaan penganiayaan di Hotel Crystal, Jalan Jamin Ginting, saat PP bersama tiga orang lainnya LS, W dan S hendak mengamankan kedua pelaku pencurian itu.
“Untuk kasus penganiayaan itu penyidik telah menetapkan keempatnya sebagai tersangka. Satu diantaranya inisial PP telah ditahan dan tiga lainnya masuk daftar pencarian orang (DPO),” terang mantan Direktur Narkoba Polda Sumut tersebut.
Calvijn mengungkapkan, peristiwa pencurian dan penganiayaan terjadi tersebut di waktu dan lokasi yang berbeda sehingga tidak bisa dianggap satu rangkaian peristiwa yang sama. Untuk kasus pencurian terjadi pada 22 September 2025 di toko milik PP. Sementara perkara penganiayaan terjadi pada 23 September 2025.
“Oleh karena itu tidak serta-merta korban pencurian boleh melakukan kekerasan. Semua ada aturannya,” tegasnya.
Dia menyebut, penyidik Polrestabes Medan berkomitmen menuntaskan seluruh perkara itu secara objektif dan sesuai hukum yang berlaku.
Pada kesempatan itu, Calvijn menepis isu soal informasi yang beredar para pelaku penganiayaan bersama-sama ini mengamankan korban karena diperintahkan oleh oknum polisi di Polsek Pancur Batu.
“Para pelaku berinisiatif sendiri menangkap korban, bahkan pada petugas hotel salah seorang pelaku mengaku dari petugas Polsek Pancur Batu,” sebutnya.
Ahli Pidana, Dr Alpi Sahari, memaparkan, dalam konteks hukum pidana esensi dalam penegakan hukum memberi keadilan kepada semua pihak. Sehingga konteks kasus pencurian sudah clear.
Ia menerangkan, dalam kasus ini yang kemudian menjadi viral, yakni penganiayaan secara bersama-sama para tersangka berupaya membangun opini dan berasumsi korban dijadikan tersangka. Menurutnya, hukum pidana harus berdasarkan pada fakta, tidak berdasarkan asumsi atau opini.
“Terhadap tersangka PP karena sikapnya yang siap menghadapi hukum harus diapresiasi karena dia mengakui perbuatan yang dia lakukan. Polrestabes Medan agar bisa menetapkan Plea Bargain atau saksi mahkota. Sehingga ada keringanan hukuman karena dia mengakui kesalahannya untuk meringankan hukuman. Keadilan bagi semua pihak bukan bagi salah satu pihak. Kepada para DPO silahkan menyerahkan diri dan bertanggungjawab,” pungkasnya. KM-ded/R
