PERKEMBANGAN ekonomi digital telah menjadi salah satu pilar penting dalam pembangunan daerah di Indonesia termasuk di Provinsi Suatera Uara. Dalam konteks Provinsi Sumatera Utara, peran PT Bank Sumut (Perseroda) menjadi signifikan dalam mendorong terbentuknya ekosistem ekonomi digital yang terintegrasi. PT Bank Sumut berkontribusi dalam pembangunan ekonomi digital melalui penyediaan layanan perbankan berbasis teknologi informasi, penerapan sistem pembayaran non-tunai, serta digitalisasi pengelolaan keuangan daerah.
Transformasi ini mendukung peningkatan transparansi dan akuntabilitas fiskal, sekaligus mempercepat proses transaksi antara pemerintah daerah dan masyarakat. Digitalisasi keuangan daerah juga berimplikasi pada peningkatan efektivitas pengelolaan pendapatan dan belanja daerah. Sinergi antara Bank Sumut, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi faktor kunci dalam keberhasilan pembangunan ekonomi digital.
Kolaborasi ini memungkinkan integrasi kebijakan, penguatan infrastruktur digital, serta pengembangan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidang teknologi dan keuangan digital. Di Provinsi Sumatera Utara, salah satu instrumen itu adalah PT Bank Sumut (Perseroda), bank daerah yang perannya sering kali luput dari perbincangan publik, padahal jejaknya ada di hampir setiap sendi pembangunan.
Ada 5 (lima) pilar pembangunan Provinsi Sumatera Utara sejatinya menemukan mitra alaminya pada Bank Sumut. Sebab, apa arti pembangunan sumber daya manusia tanpa akses keuangan yang adil?, Apa makna pertumbuhan ekonomi jika UMKM tak memperoleh pembiayaan?, Dan bagaimana infrastruktur bisa berdiri jika fiskal daerah bekerja sendirian?
Pada pilar pembangunan manusia, PT Bank Sumut (Perseroda) tidak berdiri di menara gading. Pembiayaan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah, layanan perbankan untuk pelajar dan aparatur, hingga literasi keuangan menunjukkan bahwa pembangunan SDM dimulai dari kepastian hidup yang paling dasar yakni rumah, pendidikan, dan akses layanan keuangan.
Gubernur Sumatera Utara, Bobby Afif Nasution pernah menyatakan skema pembiayaan perumahan yang melibatkan Bank Sumut memberikan kemudahan bagi masyarakat, karena angsuran yang ringan dan akses yang lebih luas.
Pernyataan ini menegaskan bahwa kebijakan perbankan daerah memiliki dampak langsung terhadap pembangunan manusia.
Di sektor ekonomi kerakyatan, Bank Sumut memainkan peran yang lebih konkret. Kredit UMKM dan KUR bukan sekadar angka dalam laporan tahunan, melainkan napas bagi pedagang kecil, petani, dan pelaku usaha lokal.
Seperti pernah disampaikan Syafrizal Syah saat menjabat Direktur Bisnis dan Syariah PT Bank Sumut menyebutkan, bahwa pembiayaan UMKM diarahkan untuk memperkuat sektor produktif, agar masyarakat tidak hanya bertahan, tetapi mampu tumbuh dan berdaya saing. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam memperluas basis ekonomi rakyat. Di sinilah bank daerah menemukan jati dirinya berpihak pada ekonomi yang tumbuh dari bawah, bukan semata mengejar laba dari sektor besar.
Pilar infrastruktur memperlihatkan wajah lain Bank Sumut sebagai mitra strategis pemerintah daerah. Ketika ruang fiskal terbatas, bank daerah hadir menawarkan skema pembiayaan. Jalan, pasar, dan fasilitas publik tidak berdiri sendiri, ia lahir dari kolaborasi keuangan yang terencana dan terukur.
Tak kalah penting adalah pilar tata kelola. Digitalisasi transaksi, sistem non-tunai, dan transparansi keuangan daerah menjadikan Bank Sumut bagian dari reformasi birokrasi. Di tengah tuntutan publik akan pemerintahan bersih, bank daerah berfungsi sebagai penjaga disiplin anggaran.
Sementara itu, pada pilar keberlanjutan, arah kebijakan Bank Sumut mulai sejalan dengan tuntutan zaman. Pembiayaan yang lebih selektif, dukungan terhadap usaha ramah lingkungan, dan digital banking menandai kesadaran bahwa pembangunan hari ini tidak boleh mengorbankan masa depan.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi apakah Bank Sumut penting bagi pembangunan Sumatera Utara. Pertanyaannya, sejauh mana bank daerah ini terus menjaga keberpihakan bahwa setiap rupiah yang dikelola benar-benar kembali kepada rakyat.
Jika lima pilar pembangunan adalah fondasi, maka Bank Sumut adalah salah satu tiang penyangganya. Dan tiang yang kokoh tidak banyak bicara, ia bekerja, menahan beban, dan memastikan bangunan tetap berdiri. (Penulis: Muhammad Fahmi- Wartawan Media Online koranmonitor.com, Untuk Lomba Karya Tulis PT Bank Sumut (Perseroda) Menyambut Hari Pers Nasional 2026)

