Emas dan rupiah.
koranmonitor – MEDAN | IHSG pada sesi pembukaan perdagangan hari ini menguat ke level 8.235. IHSG menguat ditengah kinerja positif mayoritas bursa di Asia pada perdagangan di Asia, yang berlangsung sejak awal pekan.
Minimnya sentimen penggerak pasar di Asia membuat IHSG berpeluang mengikuti kinerja bursa lainnya. Sementara itu di sisa perdagangan pada akhir pekan ini, sejumlah agenda ekonomi yang dinanti adalah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI), FOMC minutes The Fed serta sejumlah data penting dai AS lainnya.
Sejauh ini Bank Indonesia diproyeksikan akan tetap mempertahankan besaran bunga acuannya di level 4.75%. Setelah kebijakan BI nantinya, pasar akan menanti rilsi data ekonomi AS yang akan menjadi penggerak pasar di pekan depan.
“Spekulasi yang berkembang sejauh ini menunjukan bahwa The Fed masih mungkin untuk menunda pemangkasan bunga acuannya,” sebut Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin melalui keterangan tertulisnya, Rabu (18/2/2026).
US Dolar sejauh ini masih menguat dan menekan kinerja Rupiah. Dimana mata uang Rupiah ditransaksikan melemah ke level Rp16.865 per US Dolar. Tekanan pada Rupiah akan membebani kinerja IHSG. Dimana IHSG berpeluang ditransaksikan dalam rentang 8.170 hingga 8.290. Sementara itu mata uang Rupiah berpeluang ditransaksikan dalam rentang Rp16.840 hingga Rp16.880.
Terpisah harga emas dunia ditransaksikan turun dikisaran harga $4.897 per ons troy, atau sekitar Rp2.66 juta per gram.
“Harga emas dunia ditransaksikan melemah setelah pejabat The Fed menyatakan bahwa suku bunga acuan bisa saja ditahan sementara waktu. Pernyataan tersebut memicu tekanan terhadap harga emas dan mata uang Rupiah sejauh ini,” tutupnya. KMC/R

