Lahirkan Pokja Polres Langkat, Darwis Sinulingga: Wajar Beranggotakan Pengurus Orang PWI

oleh -27 Dilihat
Lahirkan Pokja Polres Langkat, Darwis Sinulingga: Wajar Beranggotakan Pengurus Orang PWI
Ketua PWI Langkat, Darwis Sinulingga

LANGKAT-koranmonitor | Gonjang ganjing seputar terbentuknya Pokja (kelompok kerja) Wartawan Polres Langkat, menjadi salahsatu bahasan sekelompok oknum Wartawan di Kabupaten Langkat, belakangan ini.

Mereka merasa tidak dipandang dan diperhatikan dengan menuding Kapolres Langkat AKBP Danu Pamungkas Totok SH SIK tidak fair alias pilih kasih.

Ada pihak yang mengatakan, kehadiran Pokja menghambat kerja wartawan yang tidak tergabung di Pokja.

Ada juga isu menyebutkan Kapolres Langkat termakan hasutan pengurus PWI, sehingga tidak bersikap adil dalam Pres rilis.

Bahkan ada juga yang mencetuskan kenapa anggota Pokja hanya mereka yang tergabung di PWI saja, padahal organisasi wartawan di Langkat bukan hanya PWI. Serta fitnah-fitnah lainnya yang dihembuskan oleh mereka yang tidak bertanggungjawab, dan dengki akibat kerendahan intelektualnya.

Menyikapi gosip kurang mengenakkan tersebut, Ketua organisasi kewartawanan tertua di Indonesia yang berada di Langkat hanya tersenyum santai, sembari menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya.

Pertama, kehadiran Pokja tidak bermaksud menghalangi tugas jurnalistik dari kawan-kawan wartawan manapun diluar Pokja.

“Pokja ini tidak menghambat siapun. Dari mana dasar dikatakan menghambat? Justru sebaliknya kehadiran Pokja membantu teman-teman lainnya jika merasa kesulitan berkomunikasi dengan PJU dilingkungan Mapolres,” ujar Ketua PWI Langkat Darwis Sinulingga yang juga menjabat penasehat di Pokja.

Lagi pula saat sekarang ini informasi sudah terbuka, misalnya nomor telpon atau WhatsApp pejabat Polri mulai dari tingkat Polsek, Kasatreskrim, Kapolres, Kapolda bahkan Kapolri, banyak diketahui masyarakat.

Artinya siapa saja bebas berkomunikasi dengan para pejabat tersebut, apalagi wartawan khususnya dijajaran Kepolisian Polres Langkat.

Nah, jangan pula akibat ketidak mampuan si wartawan berkomunikasi dengan baik kepada pejabat disebutkan tadi, malah menyalahkan Pokja wartawan, inikan lucu.

“Jadi jangan lah asal bicara yang akhirnya memperlihatkan kebodohan diri sendiri di publik,” ungkap Darwis.

Kedua, alasan Pokja kesemuanya anggota PWI Langkat karena Pokja ini memang dibuat oleh PWI, dilahirkan melalui musyawarah anggota dan Pengurus PWI Langkat.

Jadi berbeda dan tidak sama dengan lainnya diluaran sana, jangan dipaksakan setara.

“Pokja ini karya PWI ya jadinya anggotanya orang PWI, jadi dimana salahnya,” tandasnya.

“Justru salah jika yang membuat PWI namun anggotanya bukan PWI. Kan jadi tidak sama maka jangan dipaksakan setara,” urainya menambahkan.

Jadi, sebut Darwis, jika ada organisasi kewartawanan lainnya juga ingin membuat Pokja, silahkan saja. Karena pihaknya tidak pernah mencampuri rumah tangga organisasi wartawan lain.

“Pokja terbentuk karena disetujui Kapolres Langkat, bila ada kelompok lain juga ingin membentuk Pokja atau unit apapun namanya, sepanjang disetujui Kapolres ya tidak masalah, karena yang menetukan Bapak Kapolres bukan kami,” tegas Darwis.

Herannya selama ini kemana saja kenapa tidak pernah berinisiatif membuat Pokja. Namun setelah PWI membuat Pokjanya sendiri jadi ribut.

“Kenapa jadi ribut, mencampuri rumah tangga orang lain. Janganlah menjadi orang yang sudah tidak mampu berkarya, terus mengusik karya orang lain. Cukuplah, jangan terus mempermalukan diri sendiri,” ujarnya.

Ketiga, berani secara tegas dikatakan anggota Pokja adalah wartawan profesional Karena PWI adalah, organisasi kostituen (terverifikasi) Dewan Pers.

Masuknya pun tidak mudah, melalui ujian yang berstandar. Selain itu para anggota PWI juga sudah mengikuti dan lulus Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang digawangi Dewan Pers.

“Jadi yang menyebutkan mereka wartawan profesional adalah Dewan Pers, lembaga yang merumuskan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Sebab mereka dalam wadah organisasi kostituen (PWI) dan sudah lulus UKW,” paparnya.

“Jadi yang mengatakan wartawan itu profesional atau tidak, bukan saya tapi Dewan Pers,” tandas Darwis kembali.

Selanjutnya, Darwis menerangkan salah satu ciri wartawan yang tidak profesional. Yakni memuat berita hanya sepihak saja. Seperti yang terjadi baru baru ini.

Oknum mengaku wartawan itu membuat berita tentang Pokja, harusnya konfirmasi kepada Ketua Pokja bukan beropini.

Darwis pun menegaskan soal Kapolres Langkat yang dianggap pilih kasih adalah tidak benar.

Menurutnya Kapolres Langkat terbuka kepada siapa saja apalagi wartawan, jadi yang ditudingkan itu salah, akibat minimnya komunikasi.

Ia pun menyarankan agar mereka menjadi wartawan yang profesional dengan mengedepankan opinis dan emosional ketika membuat suatu berita.

Terakhir Darwis menambahkan selama ini dirinya selalu terbuka kepada rekan-rekan dari media manapun jika ingin berkomunikasi.KM-nasti

No More Posts Available.

No more pages to load.