Harga Kebutuhan Pangan Pokok Bertahan Mahal, Nasib Petani Masih Suram

oleh -7 views
Harga Kebutuhan Pangan Pokok Bertahan Mahal, Nasib Petani Masih Suram
Ilustrasi

koranmonitor | Nilai tukar petani (NTP) Sumut secara keseluruhan mengalami kenaikan di bulan april. NTP petani berada di level 133.32 atau mengalami peningkatan dari posisi bulan maret sebesar 132.67. Atau mengalami kenaikan 0.49% secara bulanan (month to month).

Tetapi benarkah kenaikan NTP tersebut mencerminkan kenaikan daya beli bagi semua petani di Sumut?

Tentunya tidak, karena jika ditelusuri lebih dalam NTP tanaman hortikultura justru mengalami penurunan di bulan April. Bahkan angkanya di bawah 100 (96.5) yang mengindikasikan bahwa petani belum diuntungkan dengan hasil jual tanamannya. Penurunan yang paling besar pada NTP sub sektor tanaman sayur sayuran. Angkanya turun dari 138.37 menjadi 125.97.

Artinya penurunan harga tomat, cabai memberikan pengaruh pada penurunan indeks. Meskipun indeks tanaman sayur-sayuran menurut hitungan saya masih mampu di atas 100. Dan penurunan untuk NTP tananam hortikultura terjadi karena pengeluaran (indeks yang dibayar) petani, khususnya subsektor tanaman buah-buahan dan tanaman obat lebih tinggi dari indeks harga yang diterima oleh petani.

Selanjutnya NTP tanaman pangan, yang mengalami penurunan di bulan April menjadi 99.48. Setelah musim panen terjadi di sejumlah wilayah di Sumut, harga gabah kering panen(GKP) yang berangsur turun (dibawah 5.000) dari sebelumnya yang sempat mencapai 6.500 untuk harga GKP, telah menekan nilai tukar petani tanaman pangan.

Dimana situasinya juga sama dengan NTP hortikultura, dimana NTP yang memburuk tersebut dipicu oleh indeks yang dibayar petani lebih tinggi dibandingkan dengan indeks yang diterima oleh petani. Hal yang sama juga terjadi pada NTP peternakan, sekalipun angkanya naik menjadi 96.24. Namun tetap saja harga yang harus dibayar peternak tetap lebih tinggi dari hasil yang diterima dari usahanya.

Ini menggambarkan bahwa tingginya pengeluaran petani untuk memenuhi segala pengeluaran (termasuk untuk bercocok tanam), masih lebih besar dari pendapatan. Masih lebih besar pasak dari tiang. Padahal sejumlah komoditas pangan milik petani bertahan mahal. Katakan daging ayam bertahan diatas 33 ribu per Kg, cabai merah diatas 40 ribu per Kg, beras medium masih dikisaran 13 ribu hingga 14 ribuan per Kg.

Jika petani mengharapkan kenaikan daya beli, maka mereka mengharapkan harga jual terus mengalami kenaikan. Padahal di harga yang sekarang saja konsumen sudah mengurangi konsumsinya. Sehingga pemerintah yang harus intervensi, bisa dengan menekan biaya input produksi, menekan inflasi atau menambal sisi pengeluaran petani.

Dan kenaikan NTP saat ini lebih dinikmati oleh petani perkebunan rakyat. Dimana indeksnya mencapai 175.81. Serta NTP perikanan yang indeksnya berada di level 102.30. Walaupun untuk sub sektor perikanan budidaya indeksnya hanya sebesar 95.40. Kesimpulannya banyak petani di Sumut masih bernasib suram ditengah harga kebutuhan pangan yang bertahan mahal. (Penulis: Gunawan Benjamin, Pengamat Ekonomi Sumut)